Cerita Rakyat ini berkisah tentang masa muda Pangeran Adipati Anom Amral yang kelak bergelar Sunan Amangkurat II atau Sunan Amangkurat Amral. Gendra bisa diartikan sebagai pertikaian, perselisihan, ontran-ontran, atau keributan. Pada masa mudanya Sunan Amangkurat II mengalami ontran-ontran asmara yang menyedihkan bahkan mengguncangkan Kerajaan Mataram Plered. Cerita ini tengah dimuat secara serial di majalah Jaya Baya, Surabaya. Sartono Kusumaningrat
Cerita rakyat ini mengisahkan tentang Raden Hasan dan Raden Husen. Raden Hasan kelak menjadi Raden Patah (penguasa Demak), sedangkan Raden Husen kelak menjadi Adipati di Terung (dekat Pasuruhan) dengan nama Adipati Arya Pecat Tanda. Keduanya bertemu dalam peperangan Demak melawan Majapahit. Dalam peperangan ini Adipati Arya Pecat Tanda terkenal kesaktiannya dengan ajian yang dinamakan Petak Buta. Dalam sebuah peperangan Adipati Arya Pecat Tanda berhasil menewaskan Sunan Ngudung (Sunan Kudus I). Raden Hasan dan Raden Husen lahir dari rahim ibu yang sama. Kepentingan politik yang berbeda mempertemukan mereka dalam perseteruan. Keduanya sama-sama tampan, gagah, cerdas, pemberani. Sama seperti pertemuan Arjuna dan Karna dalam cerita Mahabarata. Cerita ini pernah dimuat secara serial di Majalah Jaya Baya, Surabaya. Ilustrator dari cerita ini adalah Boediono. Karya ini adalah salah satu karya saya dengan nama samaran saya.
Sendang Kasihan terletak di Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Tidak jauh dari PG Madukismo. Sendang ini dipercaya pernah digunakan untuk mandi Roro Pembayun (putri Senapati-Mataram) sebelum "menyusup" ke wilayah Mangir. Dengan mandi di sendang ini dipercayai Pembayun akan tampak lebih memikat. Akhirnya Pembayun memang dapat memikat Mangir. Namun Pembayun sebenarnya juga terpikat padanya. Mangir akhirnya menghadap ke Matarm dan justru dilenyapkan oleh Senapati. Sendang kasihan tidak pernah kering dan airnya jernih. Banyak orang menziarahinya dengan berbagai keperluannya masing-masing.
Komentar
Posting Komentar